Thomas Dicky Hastjarjo dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Psikologi Eksperimental tahun 2008 menyatakan bahwa Psikologi adalah disiplin ilmu yang terpecah-pecah. Menurut pandangan aliran dualisme, mind merupakan hal yang terpisah-dikotomis dari brain (substansi fisik-material), karena secara intuitif diri sejati manusia (“self”) tidak dapat direduksi ke dalam ranah material yang empiris. Pengaruh gerakan romantisme, fideisme, dan vitalisme dalam Filsafat memberikan kontribusi dalam hal ini. Sebaliknya pandangan monisme menganggap mind-brain sebagai hal yang tak terpisahkan.

Read More

Sebagai makhluk ultra sosial, kehadiran orang lain adalah niscaya. Hipotesis Machiavellian intelligence (“social brain”) mengidentifikasi kompetisi sosial sebagai faktor terpenting dalam evolusi, karena memungkinkan manusia mengembangkan kapasitas kognitifnya dengan beragam strategi untuk meraih kesuksesan secara sosial, beserta kemampuan untuk terus belajar dan menggunakan strategi tersebut. Drama yang terjadi di media sosial perlu disikapi dengan cara berbagi secara mindful.

Read More

Adiksi  diturunkan dari kata “addictus” yang artinya diperbudak oleh (enslaved by) dan terikat dengan (bound to) objek yang menjadi target adiksi. Model moral adiksi yang berkembang tahun 1930-an memandang adiksi sebagai bentuk kecacatan moral atau kurangnya kontrol diri. Untuk mengatasi adiksi, pecandu kemudian dihukum atau didorong untuk memperbesar tekad agar mengubah kebiasaannya. Model moral adiksi sekarang sudah mulai ditinggalkan, karena dapat menimbulkan stigma dan isolasi sosial yang justru berisiko menghambat proses rehabilitasi bagi pecandu.

Read More

Mindfulness for cancer related pain @JPsi UB

International seminar on psycho-oncology presented by Psychology Department Universitas Brawijaya. Our small contribution for all the beloved cancer survivors and those who care. 

Read More

Literatur kontemporer (Gazzaniga, Heatherton & Halpern, 2015; Weiten, Dunn, & Hammer, 2015) mendefinisikan Psikologi sebagai suatu kajian ilmiah tentang perilaku (behaviour), proses mental (mind), dan otak (brain). Apabila dipetakan ke dalam hierarki sains filsuf Auguste Comte (1798–1857), Psikologi menempati posisi di antara Biologi dan Sosiologi (Fanelli & Glänzel, 2013; Simonton, 2015). Comte sendiri mengabaikan keberadaan Psikologi dalam hierarki sainsnya. Psikologi dianggap tidak mampu menjadi sebuah sains karena objek yang dikaji tidak dapat diteliti secara ilmiah, dan metode yang digunakan oleh bidang ini mengandalkan pada spekulasi yang bersifat metafisika (Coon, 1992).

Read More