Move on dari luka batin @FPsi UHT

Di era 1990-an, syair “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati” yang dilantunkan oleh pedangdut legendaris Meggy Z sempat menjadi tren. Sakit gigi tentu bukan satu-satunya penyebab timbulnya rasa tidak nyaman pada tubuh kita. Pain atau ketidaknyamanan fisik bisa dipicu oleh kondisi lain seperti adanya benturan, luka sayatan, paparan suhu yang ekstrem, dan beragam penyakit kronis. René Descartes dalam ‘rope-pull’ model menganalogikan pain dengan tarikan tali pada lonceng gereja, karena intensitas rasa sakit yang dialami seseorang akan membesar seiring peningkatan level kerusakan pada tubuhnya. Namun benarkah bahwa pain merupakan sensasi fisik semata, yang tidak memiliki keterkaitan dengan kondisi psikologis kita?

Para peneliti kontemporer merumuskan pain sebagai sebuah fenomena yang kompleks. Ketika jari kita terantuk palu misalnya, secara otomatis saraf nociceptor (saraf-saraf yang mendeteksi perubahan mekanis, termal, dan kimiawi yang melewati ambang batas) akan berusaha mengirim sinyal rasa sakit ke otak kita. Akan tetapi, besarnya ketidaknyamanan yang kemudian kita rasakan ditentukan oleh seberapa lebar terbukanya “pagar” pain, yang diasumsikan terletak di tulang belakang.

Membuka dan menutupnya pagar ini tergantung pada banyak faktor. Rasa tidak nyaman bisa berkurang ketika bagian yang terbentur tadi langsung diusap atau dipijat. Kehadiran orang lain dapat pula memengaruhi, kita mungkin gengsi untuk menangis atau berteriak kesakitan di tengah keramaian. Di samping itu, sensasi pain amat dipengaruhi oleh kondisi emosi kita seperti kecemasan, ketakutan, kegembiraan, atau relaksasi. Jadi walaupun secara objektif jari kita memang mengalami memar, derita yang kita rasakan akibat benturan ini bersifat sangat subjektif.

Lebih dari itu, manusia memiliki kebiasaan untuk memberikan makna terhadap pain yang ia alami. Sosialisasi yang kita terima di sepanjang kehidupan mengajari kita bahwa orang yang berbuat salah itu harus dihukum, sehingga rasa sakit akibat hukuman yang diterima merupakan konsekuensi yang wajar.

Ada kalanya, orang malah sengaja menampilkan perilaku untuk “menghukum” diri sendiri, seperti membenturkan kepala pada benda lain, mengiris pergelangan tangan, dan meminum obat dalam dosis berlebihan. Perilaku menyakiti diri ini antara lain dimaksudkan untuk mengurangi rasa bersalah yang dialami. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah eksperimen, partisipan menjadi lebih mampu untuk menahan tangan mereka di dalam ember yang berisi air es setelah diminta mengingat kembali peristiwa saat mereka pernah menyakiti orang lain. Para partisipan juga menilai pengalaman ini sebagai sesuatu yang lebih menyakitkan namun sekaligus dapat mengurangi rasa bersalah mereka. Dalam jangka pendek, perilaku menyakiti diri sendiri barangkali bisa menimbulkan kelegaan sesaat. Dalam jangka panjang, perilaku ini bisa berujung pada kematian.

Di dalam eksperimen mindfulness yang dilakukan di North Carolina, peserta yang mengikuti latihan mindfulness selama 4 hari melaporkan penurunan 40% intensitas pain dan 57% ketidaknyamanan akibat pain (berupa besi panas yang ditempelkan pada betis kanan partisipan). Penurunan ini lebih signifikan dibandingkan penggunaan morfin dan obat pain-reliever lain yang secara umum hanya mereduksi pain hingga 25%. Selain itu, partisipan menunjukkan peningkatan aktivitas otak yang terkait dengan pemrosesan emosi dan kontrol kognitif.

Dengan demikian, latihan mindfulness tidak saja bermanfaat untuk meningkatkan kesanggupan kita memaafkan diri sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk memodulasi sensasi rasa sakit yang kita alami. Tidak perlu lagi kita korbankan gigi atau bagian lain dari tubuh kita sekadar untuk menyamarkan derita akibat sakit hati yang ingin kita hindari.

  • Kutipan selengkapnya: Yusainy, C. (2015). Berkawan dengan rasa sakit.  Dalam Adjie Silarus, Sadar penuh, hadir utuh (hlm. 201-203). Jakarta: Transmedia.