BELIEVE Be mindful @FPsi UKM

Kemacetan lalu lintas. Tumpukan pekerjaan. Problem keuangan. Masalah kesehatan. Konflik dengan teman. Konflik dengan saudara. Konflik dengan pasangan. Atau malah konflik dengan diri sendiri? Daftar kejadian sehari-hari yang bisa menimbulkan stres memang tidak terhitung banyaknya. Namun kalau Anda cermati, berapa banyak dari sumber stres Anda yang tergolong ke dalam bahaya atau tantangan yang bersifat fisik? Berbeda dengan nenek moyang kita yang harus bertarung melawan binatang buas untuk mempertahankan nyawa mereka, kebanyakan penyebab tekanan dalam kehidupan manusia modern adalah hal-hal yang sifatnya psikologis.

Kemajuan sains dan teknologi memang telah mengurangi jumlah peristiwa yang menyangkut persoalan hidup dan mati. Walaupun begitu, reaksi otomatis yang dihasilkan tubuh kita di bawah kondisi stres masih serupa betul dengan respon yang ditampilkan para leluhur kita sewaktu dikejar harimau kelaparan. Respon “gempur-atau-kabur” (fight-or-flight) yang ditandai adanya peningkatan ketegangan otot, debaran jantung, gemeratak gigi, dan keringat dingin inilah yang membuat mereka mampu bertahan hidup di tengah belantara. Respon semacam ini tentunya menjadi tidak efektif lagi, dan bahkan membuang banyak energi untuk lawan yang tidak sebanding dengan seekor harimau yang siap menerkam.

Kecenderungan tubuh kita untuk siap menggempur-atau-kabur dari orang atau kejadian yang memicu stres diiringi pula dengan meningkatnya emosi negatif yang kita alami. Saat sedang tertekan, kita menjadi lebih mudah risau, sedih, tersinggung, dan marah. Kita kehilangan minat terhadap hal-hal yang tadinya kita sukai. Sulit rasanya untuk berpikir jernih, atau mengambil keputusan secara rasional. Meskipun tidak menyenangkan, kegalauan yang kita rasakan ini sesungguhnya bukan tanpa fungsi. Sebagaimana halnya reaksi fisiologis tubuh kita, rasa galau adalah “sinyal” yang menandakan bahwa saat ini tengah berlangsung sebuah peristiwa yang mengganggu stabilitas kehidupan kita. Jadi tidak perlu terburu-buru berusaha untuk menyingkirkan perasaan ini. Tidak perlu juga memaksa pikiran kita bekerja lebih keras dengan mengajukan rentetan pertanyaan seperti,“Mengapa saya galau?”, “Ini salah siapa?”, “Akibatnya apa?”, “Adakah makna terselubung di balik peristiwa ini?” Analisis seperti ini biasanya malah membuat kita menjadi semakin stres dan menggalau.

Yang perlu kita lakukan adalah justru mempertajam kemampuan kita dalam menangkap sinyal-sinyal stres. Latihan “body-scan” yang dipandu oleh Profesor Mark Williams dari University of Oxford ini pada prinsipnya mempersiapkan kita untuk belajar mengenali tubuh kita sendiri, bagaimana emosi kita muncul dan kemudian hilang, juga mengatur bagaimana sisi rasional bisa ditempatkan. Tidak seperti latihan relaksasi yang secara sengaja “mengundang” otot-otot kita untuk menegang dan mengendur, di dalam body-scan kita tidak melakukan upaya apapun untuk menghadirkan atau mengusir sensasi fisik, emosi, dan pikiran yang muncul. Setelah mengikuti latihan yang merupakan bagian dari program MBSR (mindfulness-based stress reduction) ini, para karyawan perusahaan bioteknologi di Wisconsin menunjukkan peningkatan aktivitas otak yang terkait dengan emosi positif, sekaligus peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus influenza. Saat kita mampu menyapa kegalauan kita sesuai dengan sifat-sifat dasarnya, kita menjadi lebih terampil melakukan penyesuaian agar kehidupan kita stabil kembali.

  • Kutipan selengkapnya: Yusainy, C. (2015). Berkawan dengan rasa stres.  Dalam Adjie Silarus, Sadar penuh, hadir utuh (hlm. 198 -200). Jakarta: Transmedia.

Terima kasih kepada PSYCLUB Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha atas undangan untuk berbagi mengenai mindfulness .