Experimental Psychology

Rencana Pembelajaran Semester Psikologi Eksperimen Ganjil 2017/2018.

Dari artikel Quo Vadis Psikologi sebagai sebuah Kajian Ilmiah? jelaskan 3 (tiga) alasan utama mengapa mahasiswa Psikologi harus menguasai basis konseptual dan teknis Psikologi Eksperimen. Dikumpulkan pada pertemuan ke-2.

6. Etika eksperimen


Deception dalam eksperimen, etiskah?

Sebagai upaya meminimalkan bias dalam riset eksperimental, informasi tentang tujuan, hipotesis, atau desain eksperimen (termasuk bentuk perlakuan dan alokasi partisipan dalam kondisi perlakuan) sering tidak disampaikan terlebih dahulu kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak ini mungkin hanya partisipan (single-blind), partisipan dan eksperimenter (double-blind)atau partisipan, eksperimenter, dan pengolah data riset (triple-blind).

Blinding mengandung deception jika peneliti sengaja memunculkan keyakinan yang keliru (false belief) pada partisipan, dengan cara menyembunyikan infomasi yang benar atau memberikan informasi yang salah. Setiap deception menimbulkan risiko etis. Banyak partisipan mungkin tidak keberatan dengan deception, namun popularitas prosedur ini berpotensi menambah kecurigaan publik tentang riset Psikologi sehingga malah menimbulkan bias bagi calon partisipan eksperimen.

Penggunaan deception dalam riset harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Standar yang diterbitkan oleh APA (2010a) merekomendasikan deception hanya bila suatu eksperimen punya prospek kontribusi yang menjanjikan, namun prosedur yang non-deceptive tidak tersedia. Deception tidak boleh mengakibatkan rasa sakit fisik atau gangguan emosional berkepanjangan. Pada akhir eksperimen (saat debrief), peneliti harus menjelaskan alasan deception menjadi bagian integral dari risetnya dan partisipan harus diberi kesempatan untuk mengajukan tanyaan. Partisipan kemudian berhak menarik kembali datanya serta memiliki hak untuk terhindar dari konsekuensi negatif jika ia mengundurkan diri dari riset.


Outreach metode penelitian eksperimental